TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Banten meningkatkan sinergitas bersama tiga pilar kebijakan, antara Bank Indonesia, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Banten, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten, serta insan media di wilayah Banten. Langkah ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah krisis ekonomi global.
Sinergitas ini digelar lewat kegiatan Taklimat Media dengan tema 'Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Banten Melalui Sinergi Moneter, Fiskal dan Sektor Keuangan' di Jalarasa, The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2).
Kepala KPw BI Provinsi Banten, Ameriza M Moesa, mengatakan kehadiran lintas otoritas ini menjadi wujud konkret Sinergitas di daerah, dalam rangka memastikan harmonisasi bauran kebijakan, penguatan stabilitas sistem keuangan, serta akselerasi pertumbuhan ekonomi Banten di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
"Sinergi komunikasi yang selaras kepada publik juga dinilai krusial untuk mengelola ekspektasi inflasi dan menjaga optimisme pelaku usaha," katanya dalam keterangan.
Ia berharap, dengan bauran kebijakan yang terkoordinasi serta dukungan media menjadi momentum pertumbuhan ekonomi Banten, yang diharapkan tetap terjaga dan semakin kuat pada tahun 2026.
Diketahui, kinerja perekonomian Banten sepanjang tahun 2025 menunjukkan penguatan yang solid. Secara kumulatif, ekonomi Banten tumbuh sebesar 5,37 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya serta berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
"Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga serta akselerasi investasi dan kinerja industri pengolahan," tuturnya.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama PDRB dengan pangsa lebih dari 53%, didukung oleh meningkatnya keyakinan konsumen, perbaikan kondisi ketenagakerjaan, serta penguatan aktivitas perdagangan pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional dan akhir tahun.
Investasi (PMTB) juga tumbuh menguat sebesar 5,15% (yoy), dengan total realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp130,2 triliun atau 109% dari target RKPD, menempatkan Banten sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi keempat secara nasional.
"Dari sisi eksternal, kinerja net ekspor tetap tumbuh positif sebesar 11,27% (yoy), didukung oleh ekspor nonmigas yang meningkat 7,59% serta pemulihan ekspor komoditas utama seperti alas kaki dan produk kimia. Hal ini menunjukkan daya saing industri pengolahan Banten yang tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Provinsi Banten, Mohamad Zaki menuturkan kebijakan fiskal regional berperan sebagai peredam dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Realisasi belanja negara di wilayah Banten mencapai Rp27,90 triliun atau 96,28 persen dari pagu, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur, penguatan SDM, serta perlindungan sosial untuk menjaga daya beli Masyarakat.
"Transfer ke Daerah (TKD) juga terealisasi sebesar Rp18,72 triliun dan tumbuh 4,72% (yoy), mendukung kemandirian fiskal daerah," ungkapnya.
Asisten Direktur Pengawasan OJK Provinsi Banten, Afif Al Farisi, mengaku intermediasi perbankan tetap tumbuh positif. Kredit bank umum mencapai Rp220,06 triliun pada Desember 2025 dengan pertumbuhan 3,32 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,45 persen (yoy). Profil risiko perbankan tetap terjaga dengan NPL Gross bank umum sebesar 3,05 persen.
"Peningkatan jumlah investor pasar modal dan nilai transaksi saham juga mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi daerah," paparnya. (mam)