TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 telah selesai. Wisatawan yang berlibur ke pantai Anyer Cinangka, Kabupaten Serang pulang ke rumahnya masing-masing untuk mempersiapkan kegiatan esok hari baik sekolah maupun kerja.
Hasil dari libur panjang ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang menyebutkan, okupansi atau pendapatan hotel selama libur Nataru meningkat sebesar 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan disisi lain, pengelola pantai justru menjerit karena mereka menilai pendapatan yang didapatnya, pada libur Nataru ini menurun drastis hanya 40 persen, dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai 70 persen lebih.
Perbedaan pendapatan ini, kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya, ada cuaca ekstrem, gelombang air laut tinggi, dan berita bohong (hoaks) seputar Gunung Anak Krakatau (GAK), yang membuat wisatawan enggan berkunjung ke pantai.
Seperti yang dikatakan Petugas Penyewaan Water Spot Banana Boat di Pantai Hotel Jayakarta Anyer, Syarif mengatakan, kondisi pantai saat libur Nataru kurang bagus meskipun banyak wisatawan berkunjung, namun dinilainya tidak seramai tahun lalu yang benar-benar terjadi kepadatan wisatawan di pantai.
Sedangkan tahun ini, tidak ada kepadatan meski ramai namun ada kelonggaran, yang mungkin disebabkan cuaca ekstrem angin kencang, yang membuat ombak pantai besar menjadikannya wisatawan takut.
"Kalau kondisi pantai sih untuk saat ini kurang bagus ya, bisa dibilang sepi baik saat libur Natal maupun libur Tahun Baru, beda dengan tahun lalu itu sampai padat. Karena angin kencang, cuaca ekstrem dan berita hoaks, ombak juga tinggi, jadi pada tidak mau ke pantai karena takut," katanya saat ditemui wartawan di lokasi pantai, Minggu (4/1).
Syarif mengatakan, pendapatan yang didapatnya pada libur Nataru sejak Senin 22 Desember 2025 sampai Minggu 4 Januari 2026, hanya mencapai 30 persen, berbeda dengan tahun lalu yang bisa mencapai 70 sampai 80 persen pendapatannya.
Rendahnya pendapatan yang didapatnya ini, salah satu penyebabnya yaitu ombak tinggi sejak libur Natal kemarin hingga kini masih tinggi, membuat wisatawan enggan untuk berenang serta menyewa jasa seperti, mobil ATV, banana boat, pelampung, ban berenang dan lainnya.
"Ya ada yang menyewa namun tidak banyak, karena ombak besar ini sampai sekarang pun tinggi ombak masih tinggi, pemasukan ke kami pun jadi kurang," ujarnya.
Menurut Syarif, libur panjang Nataru mayoritas wisatawan lebih memilih berlibur ke wilayah puncak Bogor, Bandung, dan pegunungan lainnya, dibandingkan pantai.
Tidak hanya itu, wisatawan yang berkunjung ke pantai juga kebanyakan hanya berasal dari Banten seperti, Tangerang, Pandeglang, dan Serang.
"Sekarang sih kebanyakan wisatawan lebih condongnya ke Bogor, ke wisata-wisata Puncak pegunungan gitu, kalau ke pantai Anyer masih kurang. Turunnya pendapatan ini juga, banyak dikeluhkan pengelola wisata pantai lainnya," ucapnya.
Senada yang disampaikan Bondan Pamungkas, salah satu karyawan pengelola Pantai Sambolo Satu Anyer mengaku, pendapatan pada libur panjang Nataru mengalami penurunan, dibanding tahun lalu yang mencapai 100 persen, di tahun ini hanya mencapai 90 persen turun 10 persen.
Meski ramai dikunjungi wisatawan, namun tidak sepadat tahun lalu yang bisa membuat pantai menjadi penuh, bahkan pernah tidak mampu lagi menampung wisatawan.