Pengelola Pantai Menjerit

Minggu 04-01-2026,20:48 WIB
Reporter : Agung Gumelar
Editor : Sutanto

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 telah selesai. Wisatawan yang berli­bur ke pantai Anyer Cinangka, Kabupaten Serang pulang ke rumahnya masing-masing un­tuk mempersiapkan kegiat­an esok hari baik sekolah maupun kerja.

Hasil dari libur panjang ini, Per­himpunan Hotel dan Res­toran Indonesia (PHRI) Kabu­paten Serang menyebutkan, okupansi atau pendapatan hotel selama libur Nataru me­ning­kat sebesar 80 persen di­ban­dingkan tahun sebelumnya.

Sedangkan disisi lain, penge­lola pantai justru menjerit karena mereka menilai pen­dapatan yang didapatnya, pada libur Nataru ini menurun drastis hanya 40 persen, diban­dingkan tahun lalu yang bisa mencapai 70 persen lebih.

Perbedaan pendapatan ini, kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya, ada cuaca ekstrem, gelombang air laut tinggi, dan berita bo­hong (hoaks) seputar Gunung Anak Krakatau (GAK), yang membuat wisatawan enggan berkunjung ke pantai.

Seperti yang dikatakan Pe­tugas Penyewaan Water Spot Banana Boat di Pantai Hotel Jayakarta  Anyer, Syarif menga­takan, kondisi pantai saat libur Nataru kurang bagus meskipun banyak wisatawan berkunjung, namun dinilainya tidak se­ramai tahun lalu yang benar-benar terjadi kepadatan wisa­tawan di pantai.

Sedangkan tahun ini, tidak ada kepadatan meski ramai namun ada kelonggaran, yang mungkin disebabkan cuaca ekstrem angin kencang, yang membuat ombak pantai besar menjadikannya wisatawan takut.

"Kalau kondisi pantai sih untuk saat ini kurang bagus ya, bisa dibilang sepi baik saat libur Natal maupun libur Ta­hun Baru, beda dengan tahun lalu itu sampai padat. Karena angin kencang, cuaca ekstrem dan berita hoaks, ombak juga tinggi, jadi pada tidak mau ke pantai karena takut," katanya saat ditemui wartawan di lokasi pantai, Minggu (4/1).

Syarif mengatakan, pendapat­an yang didapatnya pada libur Nataru sejak Senin 22 Desem­ber 2025 sampai Minggu 4 Ja­nuari 2026, hanya mencapai 30 persen, berbeda dengan ta­hun lalu yang bisa mencapai 70 sampai 80 persen pendapatannya.

Rendahnya pendapatan yang didapatnya ini, salah satu pe­nyebabnya yaitu ombak tinggi sejak libur Natal kemarin hing­ga kini masih tinggi, mem­buat wisatawan enggan untuk berenang serta menyewa jasa seperti, mobil ATV, banana boat, pelampung, ban bere­nang dan lainnya.

"Ya ada yang menyewa na­mun tidak banyak, karena ombak besar ini sampai seka­rang pun tinggi ombak masih tinggi, pemasukan ke kami pun jadi kurang," ujarnya.

Menurut Syarif, libur panjang Nataru mayoritas wisatawan lebih memilih berlibur ke wilayah puncak Bogor, Ban­dung, dan pegunungan lain­nya, dibandingkan pantai.

Tidak hanya itu, wisatawan yang berkunjung ke pantai juga kebanyakan hanya berasal dari Banten seperti, Tangerang, Pandeglang, dan Serang.

"Sekarang sih kebanyakan wisatawan lebih condongnya ke Bogor, ke wisata-wisata Puncak pegunungan gitu, kalau ke pantai Anyer masih kurang. Turunnya pendapatan ini juga, banyak dikeluhkan pengelola wisata pantai lainnya," ucapnya.

Senada yang disampaikan Bondan Pamungkas, salah satu karyawan pengelola Pantai Sambolo Satu Anyer mengaku, pendapatan pada libur panjang Nataru mengalami penurunan, dibanding tahun lalu yang mencapai 100 persen, di tahun ini hanya mencapai 90 persen turun 10 persen.

Meski ramai dikunjungi wisa­tawan, namun tidak sepadat tahun lalu yang bisa membuat pantai menjadi penuh, bahkan pernah tidak mampu lagi menampung wisatawan.

Kategori :