BJB

Udara Tangsel Tak Sehat, 6.147 Kasus ISPA Tercatat dalam Sepekan

Udara Tangsel Tak Sehat, 6.147 Kasus ISPA Tercatat dalam Sepekan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar.(Tri Budi/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Kualitas udara Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang berada pada kategori tidak sehat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 6.147 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada minggu ke-39. Diare dan demam berdarah dengue (DBD) juga masih membayangi di tengah cuaca panas dan risiko buruknya kondisi lingkungan.

Kendati angka kasus ISPA mengalami sedikit kenaikan secara mingguan, Dinkes Tangsel menilai tren tersebut belum menunjukkan lonjakan signifikan. Jumlah kasus juga disebut masih relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Dinkes Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan data tersebut merujuk pada pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Hingga minggu ke-39, belum ada indikasi kuat yang memungkinkan pihaknya menyimpulkan terjadinya peningkatan kasus akibat faktor tertentu.

“Meski demikian, kami menilai perkembangan penyakit tersebut belum menunjukkan peningkatan yang signifikan,” ujar Allin kepada wartawan, Rabu (21/10).

Namun, tren kasus yang relatif stabil bukan berarti ancaman penyakit bisa diabaikan. Kondisi udara yang buruk berpotensi memperparah gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.

Allin menjelaskan, ISPA dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Paparan polusi udara dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, sehingga masyarakat perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk.

“ISPA sendiri dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kondisi udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada masyarakat yang rentan, termasuk anak-anak,” jelasnya.

Dinkes mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mengurangi risiko penularan melalui percikan pernapasan atau droplet dan benda yang terkontaminasi. Langkah pencegahan dinilai penting, terutama untuk melindungi anak-anak yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.

Ancaman lain datang dari diare, penyakit yang berkaitan erat dengan kebersihan makanan, minuman, dan kualitas air. Masyarakat diminta memastikan makanan dan minuman tetap higienis serta air yang dikonsumsi memenuhi standar kesehatan.

Sementara itu, DBD juga perlu diwaspadai selama musim kemarau. Tempat penampungan air yang tidak terawat dan masih menyisakan genangan dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Karena itu, warga diminta rutin memeriksa, menguras, dan membersihkan tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Upaya menjaga kebersihan lingkungan perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika kasus penyakit meningkat.

Dinkes Tangsel menegaskan, pencegahan tetap menjadi kunci untuk menekan risiko penularan penyakit. Di tengah kualitas udara yang memburuk, kewaspadaan masyarakat dan perhatian terhadap kebersihan lingkungan menjadi semakin penting, terutama untuk menjaga kesehatan anak-anak.

Meski belum menemukan lonjakan kasus yang signifikan, kondisi tersebut tetap menuntut langkah antisipasi. Masyarakat diharapkan tidak menunggu angka kasus meningkat untuk mulai melindungi kesehatan keluarga.(bud)

Sumber: