BJB

Pelatihan Harus Berbasis Kebutuhan Industri

Pelatihan Harus Berbasis Kebutuhan Industri

Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo.-Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang meminta program pelatihan kerja yang digelar Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) benar-benar berbasis kebutuhan industri. Pelatihan juga harus dievaluasi hingga pascapelaksanaan agar memberikan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.

Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo mengatakan, pelatihan harus diawali analisis kebutuhan atau Training Needs Assessment (TNA), sehingga materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

"Kalau pelatihan itu kan kaidahnya adalah pertama, dia harus berbasis kepada analisa kebutuhan atau namanya Training Needs Assessment, untuk memastikan bahwa pelaksanaan pelatihan itu memang sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan," ujarnya, Kamis (24/9/2026).

Menurut Arief, evaluasi pelatihan tidak cukup hanya melihat teknis pelaksanaan dan peningkatan keterampilan peserta. Pemerintah juga perlu memastikan keterampilan tersebut dapat diterapkan dan berdampak pada pendapatan peserta hingga berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran.

"Yang kedua adalah, dalam kaidah manajemen pelatihan itu, kita juga perlu bukan hanya melaksanakan, tapi melakukan evaluasi pascapelatihan," katanya.

Karena itu, Pemkot perlu membangun ekosistem pascapelatihan melalui akses pemasaran, konsumen maupun pendampingan. Disnaker juga dinilai perlu melakukan follow-up agar keberhasilan program dapat terukur.

"Betul. Karena tanpa adanya follow-up, saya kira nanti pelatihan kita sulit dievaluasi dampaknya," tegasnya.

Arief turut menyoroti pengangguran terdidik, khususnya lulusan sarjana. Menurutnya, Pemkot perlu memiliki database yang valid, memetakan kebutuhan industri dengan kompetensi pencari kerja, serta menyusun pelatihan berdasarkan kesenjangan kompetensi.

"Kalau by data kan Kota Tangerang itu kota di Tangerang Raya yang angka pengangguran dengan jenjang sarjana tertinggi ya, secara nominal angka," ungkapnya.

Selain peningkatan kompetensi, perubahan pola pikir lulusan baru juga dinilai penting. Arief menyebut, ekspektasi terhadap posisi dan gaji terkadang menjadi salah satu pertimbangan dalam menerima pekerjaan.

"Sebagai starter ya atau fresh graduate, poin paling pentingnya sebenarnya kan mendapatkan pengalaman ya, pengalaman terlebih dahulu. Tanpa kemudian mengabaikan aspek kesejahteraan, tentu saja," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Tangerang, Ujang Hendra Gunawan, mengatakan peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam memperluas penyerapan tenaga kerja. Sebab, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri.

Ia menyebut, penyerapan tenaga kerja melalui job fair yang difasilitasi Disnaker berada di kisaran 15 hingga 23 persen dari jumlah lowongan yang disebarluaskan.

"Kompetensinya. Banyak prodi-prodi, banyak jurusan-jurusan baik di universitas maupun di SMK itu tidak seiring dan sejalan dengan kebutuhan dunia industri atau dunia pasar kerja," jelasnya.

Sumber: