Ada Temuan Kasus TBC, Dinkes Turun ke Lingkungan Warga
KESEHATAN: Petugas memeriksa kesehatan warga saat program cek kesehatan gratis di Kawasan Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu. -Dinkes Kota Tangsel For Tangerang Ekspres-
TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Upaya menemukan penderita tuberkulosis (TBC) di Kota Tangsel terus diperkuat. Dinkes kini tidak hanya menunggu warga datang ke Puskesmas, tetapi turun langsung ke lingkungan masyarakat melalui skrining TBC terintegrasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Langkah tersebut dilakukan untuk mengejar penemuan kasus TBC yang hingga semester pertama 2026 masih berada di angka 56 persen dari target.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes Kota Tangsel Fitria Oriza mengatakan, berdasarkan data semester pertama 2026, dari target penemuan dan pelaporan sebanyak 5.994 kasus, baru 3.365 kasus yang berhasil ditemukan.
”Dengan capaian saat ini sebanyak 3.365 kasus atau sekitar 56 persen,” ujarnya, Minggu (23/8).
Fitria menambahkan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pihaknya memperluas skrining TBC dengan mendatangi langsung lingkungan warga. Pemeriksaan dilaksanakan di 246 titik hingga November 2026 dengan sasaran sekitar 24.600 warga.
”Screening TBC terintegrasi dengan kegiatan cek kesehatan gratis atau CKG. Itu dilaksanakan di 246 titik di Kota Tangerang Selatan,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap titik ditargetkan melayani sekitar 100 warga. Lokasi pemeriksaan tidak hanya berada di fasilitas kesehatan, tetapi juga balai warga, Posyandu, serta tempat lain yang mudah dijangkau masyarakat.
Fitria mengatakan, pola tersebut diharapkan dapat menghilangkan kendala jarak dan membuat masyarakat lebih mudah mengikuti pemeriksaan.
”Kita mendekatkan ke warga. Biasanya screening dilakukan di Puskesmas, tetapi ini kita lakukan di lokasi-lokasi yang mendekatkan ke warga,” jelasnya.
Skrining juga tidak dilakukan secara sembarangan. Puskesmas diminta memetakan kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terkena TBC untuk kemudian diundang mengikuti pemeriksaan.
Kelompok tersebut antara lain orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, warga yang mengalami batuk berkepanjangan, penderita diabetes, hingga perokok.
Khusus penderita diabetes, pemeriksaan rontgen menjadi salah satu metode yang digunakan. Sebab, penderita diabetes dinilai memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC dan terkadang tidak menunjukkan gejala.
”Pasien diabetes kita periksa juga dengan rontgen karena penderita diabetes rentan terpapar TBC. Biasanya pada pasien ini tidak bergejala, tetapi ternyata kuman TBC-nya ada di paru-paru sehingga harus di-screening,” tuturnya.
Apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan indikasi TBC, warga akan diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan. Untuk pasien yang terkonfirmasi TBC sensitif obat, pengobatan dapat dilakukan secara gratis di Puskesmas dengan pemantauan tenaga kesehatan.
Sumber:


