BJB

Miniatur Perahu Karya Zulfan Wakili Banten ke Nasional

Miniatur Perahu Karya Zulfan Wakili Banten ke Nasional

Kepala Dindikbud Kota Serang Ahmad Nuri saat berfoto bersama Zulfan Rayhan, siswa SDN Harjamukti, yang menjadi juara cabang kriya FLS2N di Puspemkot Serang, Senin (3/8). (ALDI ALPIAN INDRA/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dua siswa asal Kota Serang akan mewakili Pro­vinsi Banten pada ajang tingkat nasional setelah meraih juara pertama Olimpiade Olah­raga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi.

Mereka adalah Zulfan Rayhan, siswa SDN Harjamukti, yang menjadi juara cabang kriya FLS2N, serta Fathan dari SDN 2 Kota Serang yang meraih juara pertama cabang bulutangkis O2SN.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang Ahmad Nuri menga­ta­kan, capaian tersebut mem­buktikan siswa dari berbagai sekolah di Kota Serang mampu bersaing hingga tingkat nasional.

"Zulfan berasal dari SD Har­ja­mukti. Meski sekolahnya berada di wilayah pinggiran, dia mampu menjadi juara pro­vinsi dan selanjutnya mewakili Banten di tingkat nasional," ujarnya, di puspemkot serang, Senin (3/8).

Menurut Nuri, miniatur pera­hu karya Zulfan tidak hanya mengantarkan prestasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Hingga kini, karya tersebut te­lah menerima sekitar 10 hingga 20 pesanan dari berbagai ka­langan. 

"Ini menunjukkan karya siswa memiliki nilai jual dan bisa menjadi peluang usaha," ka­tanya.

Sebagai bentuk apresiasi, Pe­merintah Kota Serang membe­ri­kan uang pembinaan kepada para siswa berprestasi. Dindik­­bud juga akan melanjutkan pembinaan bersama sekolah agar para peserta siap meng­hadapi kompetisi tingkat nasi­onal.

Sementara itu, Kepala SDN Harjamukti Nunung Rodiah mengatakan, miniatur perahu layar dipilih karena menggam­barkan karakter wilayah Harja­mukti yang berada di kawasan pesisir. Karya tersebut juga me­ngangkat identitas maritim Banten dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dan ma­terial daur ulang, seperti daun kering, biji-bijian, kardus bekas, dan kulit petai.

Ia menjelaskan, proses pe­­rakit­­an miniatur hanya membu­­tuhkan waktu sekitar lima jam. Namun, persiapan bahan men­jadi tahapan yang paling me­nyita waktu karena seluruh material dipilih secara selektif agar menghasilkan karya yang berkualitas.

Untuk menghadapi FLS2N tingkat nasional, pihak sekolah akan menyempurnakan minia­tur tersebut dengan menam­­bahkan sejumlah inovasi, ter­masuk instalasi lampu agar tam­pil lebih menarik saat pe­nilaian.

"Kami ingin mengha­dirkan inovasi baru sehingga karya yang dibawa ke tingkat nasional memiliki nilai lebih dibanding saat tampil di tingkat provinsi," pungkasnya. (ald)

Sumber: