261 KDMP Terkendala Pasokan Barang
TINJAU: Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang, Anna Ratna Maemunah meninjau salah satu KDMP di Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu.(Dinas Koperasi)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Sebanyak 261 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Tangerang sudah terbentuk, dan masih tersisa 13 dalam proses penyelesaian administrasi dan penguatan kelembagaan. Namun, koperasi yang sudah ada kesulitan mencari pasokan barang untuk dipasarkan.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang, Anna Ratna Maemunah mengatakan, proses pembentukan koperasi yang tersisa masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Mulai dari kurang aktifnya pengurus hingga dukungan dari sebagian pemerintah desa yang dinilai belum maksimal.
“Masih ada kendala pada pengurus yang kurang aktif, kemudian ada juga dukungan dari kepala desa yang belum sepenuhnya optimal. Selain itu, koperasi juga masih kesulitan mencari pasokan barang untuk dipasarkan,” ujarnya, Selasa (7/7).
Ratna menuturkan, persoalan terbesar saat ini bukan lagi pembentukan kelembagaan, melainkan memastikan koperasi memiliki usaha yang berjalan dan mampu bersaing. Banyak koperasi masih kesulitan memperoleh produk dengan harga yang kompetitif sehingga harus menjual barang-barang pabrikan yang bersaing langsung dengan toko kelontong maupun distributor.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata dia, Dinas Koperasi mulai mendorong kemitraan antara koperasi dengan sektor swasta. Salah satu program yang telah berjalan adalah kerja sama antara koperasi dengan empat hotel berbintang tiga di Kabupaten Tangerang.
Empat hotel tersebut yakni Yasmin, Saphir, Greentage, dan Amaris. Melalui kerja sama itu, koperasi memasok berbagai produk makanan ringan hasil produksi pelaku usaha lokal untuk dijual di hotel.
“Alhamdulillah sudah berjalan lancar. Kami memanfaatkan pihak swasta untuk bermitra dengan koperasi. Produk yang dipasarkan berasal dari masyarakat, seperti pelaku usaha yang membuat kue dan makanan ringan, kemudian dijual melalui hotel,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Tri Samiharto menjelaskan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan sembako masih menjadi sektor usaha yang paling diminati koperasi.
Namun, keterbatasan akses memperoleh komoditas dengan harga bersaing membuat koperasi sulit bersaing dengan toko kelontong yang telah memiliki jaringan distribusi lebih kuat. Sementara itu, terkait pengembangan usaha simpan pinjam yang selama ini menjadi salah satu jenis usaha koperasi paling diminati, pihaknya belum mendorong koperasi baru untuk menjalankannya. Menurut Tri, usaha simpan pinjam membutuhkan modal besar, sumber daya manusia yang kompeten, serta sistem pengelolaan yang akuntabel karena menyangkut dana milik anggota.
“Kalau simpan pinjam risikonya besar. Modal harus kuat, SDM harus siap, dan tata kelolanya harus benar. Karena yang dikelola adalah uang anggota. Sebelum semuanya siap, kami tidak menyarankan koperasi menjalankan usaha simpan pinjam,” katanya.(dan)
Sumber:

