SDN Sukasari 5 Teguhkan Komitmen Pendidikan Inklusif
WORKSHOP: Para guru SDN Sukasari 5 saat mengikuti kegiatan Workshop Peningkatan Kapasitas Mutu Pendidik terhadap Murid Berkebutuhan Khusus yang dipimpin langsung oleh Wawat Tustiawati, Kepala Sekolah SDN Sukasari 5, belum lama ini.(Dhuyuf/Tangerang Ekspre--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Komitmen mewujudkan pendidikan yang inklusif tidak cukup hanya dengan membuka akses bagi semua anak untuk bersekolah. Dalam memaksimalkan hal tersebut, SDN Sukasari 5 menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Mutu Pendidik terhadap Murid Berkebutuhan Khusus dengan tema Pendekatan Strategi dalam Pengelolaan Pendidikan Inklusi bagi Guru di SPPI.
Diketahui, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam menghadirkan proses pembelajaran yang adaptif dan berpihak kepada seluruh peserta didik, termasuk murid berkebutuhan khusus.
Kepala Sekolah SDN Sukasari 5, Wawat Tustiawati, mengatakan pendidikan inklusif merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas sumber daya pendidik. Menurutnya, guru memegang peran penting dalam memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
”Melalui workshop ini kami ingin memperkuat kompetensi guru agar lebih siap memberikan layanan pembelajaran kepada seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari, bukan hanya menjadi sebuah konsep,” ujarnya, Minggu (5/7).
Ia menjelaskan setiap peserta didik memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru dituntut mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang fleksibel sehingga setiap anak dapat berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya diukur dari diterimanya murid berkebutuhan khusus di sekolah, tetapi juga dari sejauh mana mereka merasa diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang bersama teman-temannya.
”Kami ingin membangun budaya sekolah yang menerima perbedaan sebagai kekuatan. Guru perlu memiliki pemahaman bahwa setiap anak berhak mendapatkan pelayanan terbaik sesuai dengan kebutuhan belajarnya,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap hasil workshop dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, peningkatan kompetensi guru akan berdampak langsung terhadap kualitas layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
Bagi SDN Sukasari 5, membangun sekolah inklusif merupakan proses yang terus berkembang. Penguatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan seluruh peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna tanpa diskriminasi.
Komitmen tersebut juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang menghargai keberagaman, empati, dan sikap saling menghormati.
Melalui workshop ini, SDN Sukasari 5 menegaskan pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi, pembelajaran yang berkelanjutan, serta kesiapan seluruh warga sekolah untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.(duy)
Sumber:

