BJB NOVEMBER 2025

OJK akan Sulap Pasar Modal RI Jadi Magnet Investor Global

OJK akan Sulap Pasar Modal RI Jadi Magnet Investor Global

DIALOG: Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi bersama jajaran lainnya dalam Dialog Pasar Modal yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2).(OJK For Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menekan pedal gas reformasi. OJK mengumumkan delapan rencana aksi ”Bold and Ambitious” dalam empat kategori besar untuk merombak wajah pasar modal Indonesia agar lebih likuid, transparan, dan berkelas dunia.

Langkah ini diambil karena OJK ingin memastikan pasar saham memenuhi ekspektasi ketat Global Index Provider (seperti MSCI) dan menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, membagi delapan rencana aksi tersebut ke dalam empat kategori besar:

Pertama Klaster Likuiditas: ”Free Float” Naik 2x Lipat. OJK mewajibkan emiten meningkatkan porsi saham publik (free float) menjadi minimal 15%, naik signifikan dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Untuk emiten Baru langsung wajib 15% saat IPO. Sementara emiten lama diberikan masa transisi untuk menyesuaikan melalui rights issue atau aksi korporasi lainnya. ”OJK bersama dengan Self Regulatory Organization, bersama dengan Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, menyampaikan komitmen untuk melakukan bold and ambitious reforms di pasar modal Indonesia sesuai dengan best practices dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider,” katanya dalam keterangan, Senin (2/2).

Kedua Klaster Transparansi: Bongkar Pemilik Asli (UBO). Tidak ada lagi pemilik bayangan. OJK akan memperketat pengungkapan Ultimate Beneficial Owner (UBO) dan afiliasi pemegang saham. Selain itu, data kepemilikan saham akan dibuat lebih detail (granular) dan dipublikasikan secara rutin di situs BEI. ”OJK akan terus mendorong penguatan transparansi UBO dan keterbukaan afiliasi pemegang saham, guna meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi melalui pengaturan yang tegas berdasarkan best practices internasional,” ujarnya.

Ketiga Klaster Tata Kelola: Demutualisasi & ”Bersih-Bersih” Pasar. Demutualisasi Bursa: BEI akan direstrukturisasi untuk mengurangi konflik kepentingan.  Sanksi Tegas: OJK berjanji akan ”tancap gas” menindak manipulasi transaksi dan penyebaran hoaks yang merugikan investor ritel.  Edukasi Direksi: Pengurus perusahaan (Direksi & Komisaris) wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan dan sertifikasi laporan keuangan.”OJK akan memerintahkan SRO untuk melakukan penguatan data kepemilikan saham agar lebih granular dan reliable, dengan klasifikasi sub-tipe investor mengacu pada praktik global,” tuturnya.

Keempat  Klaster Sinergi: Kolaborasi Lintas Lembaga. OJK menggandeng Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang, sekaligus memperluas basis investor domestik maupun asing. 

Sementara itu, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan pentingnya kepercayaan investor dalam peningkatan peran pasar modal Indonesia.”OJK tentu akan terus hadir, akan bekerja bersama Bapak-Ibu sekalian dan terus bertindak secara nyata untuk menjaga kepercayaan publik dan tentu juga melindungi para investor di pasar modal kita, dan tentu memastikan pasar modal kita dan seluruh pasar keuangan Indonesia akan tumbuh sehat, berintegritas, berdaya saing, dan juga berkelanjutan,” ujarnya.

Hasan juga menegaskan komitmen OJK untuk menjadikan pasar modal Indonesia ke depan tetap solid, terpercaya, dan menjadi pilar utama dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa Bursa Efek siap untuk melakukan transparansi terkait percepatan reformasi integritas sebagaimana yang diminta oleh MSCI untuk semakin meningkatkan kepercayaan investor.

”Apa yang akan kami lakukan untuk melakukan pendalaman dari sisi demand khususnya, agar lebih banyak lagi investor asing masuk dengan penambahan bobot Indonesia di dalam konstituen. Antara lain adalah tadi juga sudah disampaikan, kami SRO akan meningkatkan disclosure,” tegasnya.

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, pada kesempatan yang sama menekankan pentingnya kualitas, transparansi, dan akuntabilitas bursa efek yang merupakan pilar fundamental dalam pasar modal Indonesia.”Bagaimana bursa kita ini tumbuh tidak hanya dari segi market cap, tapi juga dari kualitas dari bursa kita ini adalah kualitas yang baik dan benar,” paparnya. (mam)

Sumber: