BJB NOVEMBER 2025

Warga Pakuhaji Pasang Spanduk Protes, Tolak Truk Tanah Melintas di Luar Jam Operasional

Warga Pakuhaji Pasang Spanduk Protes, Tolak Truk Tanah Melintas di Luar Jam Operasional

SPANDUK PROTES: Warga Pakuhaji memasang spanduk sebagai bentuk protes terhadap lalu lintas truk tanah yang melanggar aturan jam operasional. -Randy Yasetiawan/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, PAKUHAJI — Masyarakat Kecamatan PAKUHAJI, Kabupaten Tangerang, melayangkan protes keras terhadap aktivitas truk pengangkut tanah yang melintas di luar jam operasional. Aktivitas tersebut dinilai sangat meresahkan warga karena menyebabkan kerusakan parah dan berlubang pada jalan utama.

Sebagai bentuk kekecewaan, warga bahkan memasang spanduk protes di beberapa ruas jalan yang kerap dilintasi truk tanah. Spanduk tersebut berisi tuntutan agar pihak pengembang yang tengah melakukan proyek pembangunan di wilayah Pakuhaji segera bertanggung jawab dan menaati aturan jam operasional kendaraan berat.

Tokoh masyarakat Pakuhaji, Iskandar, mengatakan keluhan warga sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak pengembang maupun pihak terkait. Menurutnya, truk tanah tetap nekat melintas sejak pagi hingga larut malam, bahkan di jam-jam padat aktivitas masyarakat.

“Kami masyarakat Pakuhaji sangat keberatan dengan aktivitas truk tanah yang melintas di luar jam operasional. Sudah jelas aturannya, tetapi seolah diabaikan. Truk-truk ini lewat sejak pagi, siang, bahkan malam hari, tanpa memikirkan keselamatan warga,” ujar Iskandar saat ditemui Tangerang Ekspres di lokasi, Rabu (21/1).

Ia menambahkan, dampak dari aktivitas tersebut sangat dirasakan warga, terutama kondisi jalan yang kini rusak parah dan berlubang. Kerusakan jalan itu, kata Iskandar, tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor dan anak-anak sekolah.

“Jalan Pakuhaji sekarang kondisinya rusak, berlubang di mana-mana. Kalau hujan, lubang tertutup air dan sangat berbahaya. Sudah banyak pengendara motor yang hampir jatuh. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal keselamatan,” tegasnya.

Iskandar juga menyayangkan sikap pihak pengembang yang dinilai kurang peduli terhadap dampak lingkungan dan sosial yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, warga tidak pernah menolak pembangunan, namun meminta agar aktivitas proyek dilakukan dengan tertib dan bertanggung jawab.

“Kami tidak anti pembangunan. Silakan bangun, silakan proyek berjalan, tapi tolong patuhi aturan. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban. Kalau jalan rusak, siapa yang dirugikan? Ya warga Pakuhaji sendiri,” kata Iskandar.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pemasangan spanduk protes merupakan bentuk aspirasi warga yang sudah tidak tahu lagi harus mengadu ke mana. Warga berharap, dengan adanya spanduk tersebut, pihak pengembang dan pemerintah daerah segera turun tangan untuk mencari solusi.

“Spanduk ini adalah suara kami. Kami ingin didengar. Kami minta pihak pengembang bertanggung jawab memperbaiki jalan yang rusak dan menghentikan truk melintas di luar jam operasional. Jangan sampai warga terus-menerus dirugikan,” ujarnya.

Iskandar juga meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang dan instansi terkait untuk melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas kendaraan berat di wilayah Pakuhaji. Ia menilai, tanpa pengawasan dan penegakan aturan yang tegas, persoalan serupa akan terus terulang.

“Kami berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam. Harus ada pengawasan dan sanksi tegas bagi pengembang atau sopir truk yang melanggar. Jangan sampai aturan hanya jadi tulisan di atas kertas,” tutupnya. (ran)

Sumber: