TANGERANGEKSPRES.ID, SETU — Sebanyak tujuh warga Kota Tangsel menerima bantuan kaki palsu dari Pemkot Tangsel. Bantuan tersebut merupakan tindak lanjut usulan masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2025.
Kepala Dinas Sosial Kota Tangsel Heli Slamet mengatakan, tahun ini terdapat 15 usulan bantuan kaki palsu dalam Musrenbang. Namun, baru tujuh kaki palsu yang dapat direalisasikan karena proses pembuatannya membutuhkan waktu cukup panjang, mulai dari pengukuran hingga penyesuaian dengan kondisi penerima.
"Jadi dari tahun ini ada usulan 15 kaki palsu, cuma baru bisa dilaksanakan sekarang karena memang prosesnya agak panjang. Mulai dari pengukuran sampai pembuatan. Nah, ini tadi baru jadi tujuh," ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (30/9).
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kota Tangsel Carsono mengatakan, penerima bantuan merupakan warga Kota Tangsel yang masuk kategori tidak mampu dan mengalami kehilangan anggota tubuh, baik akibat kecelakaan maupun kondisi bawaan sejak lahir.
Meski telah diusulkan melalui Musrenbang, calon penerima tetap menjalani proses verifikasi ulang untuk memastikan memenuhi persyaratan bantuan.
"Walaupun awalnya mengusulkan di Musrenbang, tetap diverifikasi ulang. Alhamdulillah, tujuh penerima kemarin semuanya memenuhi persyaratan dan bisa dilaksanakan," tambahnya.
Menurutnya, sebagian penerima kehilangan kaki akibat kecelakaan, termasuk kecelakaan lalu lintas. Kondisi amputasi penerima juga beragam, mulai dari bagian bawah kaki hingga bagian paha.
Pembuatan kaki palsu pun tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap penerima harus menjalani pengukuran untuk menyesuaikan bentuk dan kondisi kaki dengan kebutuhan masing-masing.
"Jadi harus diukur dulu bagian yang patah itu di mana. Nanti disesuaikan kaki palsunya dengan kebutuhan. Ada yang sebelah kiri, ada yang kanan," jelasnya.
Kaki palsu yang diberikan juga memiliki pengaturan tertentu sehingga dapat disesuaikan dengan tinggi kaki penerima. Sementara biaya pembuatannya bervariasi, tergantung bahan dan tingkat kebutuhan. Kaki palsu hingga bagian paha membutuhkan komponen tambahan seperti engsel sehingga biayanya lebih tinggi.
Para penerima bantuan berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga lanjut usia. Mereka juga memiliki aktivitas dan pekerjaan yang beragam, seperti pelajar, pekerja pabrik, hingga pedagang.
Salah satu penerima bahkan diketahui merupakan pedagang bakso di wilayah Pondok Jati, Kecamatan Pondok Aren. Pemerintah berharap bantuan tersebut dapat membantu para penerima kembali beraktivitas secara lebih mandiri di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki.
"Harapan saya dengan adanya bantuan kaki palsu ini mereka bisa beraktivitas normal lagi. Di antara mereka ada yang pedagang, anak sekolah, ada pegawai pabrik. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap bisa berusaha," tutupnya. (bud)