TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemprov Banten tengah mengkaji pemberlakuan tarif resmi pada bus Trans Banten. Rencana penerapan tarif tersebut saat ini tengah menunggu penyelesaian revisi Peraturan Daerah (Perda) terkait pendapatan daerah oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), yang disusul dengan penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub).
Kepala Bidang Angkutan dan Pengembangan Transportasi Dishub Banten, Verry Junanta, mengatakan saat ini Pemprov Banten tengah mengkaji aspek dasar hukum penerapan tarif pada bus Trans Banten. “Kita sedang menunggu dasar penerapan tarifnya,” katanya, Selasa (18/8).
Ia menargetkan penarikan tarif tersebut bisa berjalan tahun ini. Sehingga dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Tahun ini insya Allah perdanya berikut dengan pergubnya selesai, dan kita bisa langsung menerapkan tarif ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kisaran tarif yang diusulkan relatif sangat terjangkau bagi masyarakat umum maupun pelajar, yakni antara Rp3.000 hingga Rp5.000.
Guna mendukung efisiensi dan akuntabilitas anggaran, Trans Banten dipastikan tidak akan menerima pembayaran uang tunai (cashless). Seluruh perangkat tapping telah disiapkan di armada bus untuk mendukung transaksi elektronik.
“Jadi nanti penumpang wajib menggunakan kartu uang elektronik lewat pemindaian kode QRIS. Seluruh hasil pemungutan tarif ini tentunya akan langsung disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Pemprov Banten,” ungkapnya.
Selain mengandalkan pendapatan dari tiket, Trans Banten juga menyiapkan skema penyerapan pendapatan melalui komersialisasi ruang iklan pada badan bus dan area halte, serta penyewaan ruang komersial (commercial area) di halte-halte utama layaknya konsep transportasi terpadu di ibu kota.
“Pendapatan di layanan Trans Banten ini ada, pertama tiket, kedua non tiket. Nah satu kita bisa pasang reklame di dan bus baik di dalam maupun diluar, kedua iklan di halte, ketiga kalau sudah ada halte khusus untuk trans Banten nanti di dalamnya ada komersial area yang disewakan,” tuturnya.
Verry mengaku, sejak diluncurkan pada Oktober 2025 hingga Juli 2026 layanan bus Trans Banten telah melayani 188 ribu penumpang secara gratis.
“Alhamdulillah layanan bus gratis ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, program milik Pemprov Banten ini juga berjalan tanpa ada kecelakaan. Hal ini telah sesuai dengan salah satu tujuan adanya program tersebut, yakni memberikan kemudahan, kenyamanan dan keselamatan penumpang.
“Alhamdulillah kita masih Zero accident tidak terjadi kecelakaan jadi amanlah, dan kondisi nyaman juga di dalam bus,” ujarnya.
Verry menuturkan, sejak masa uji coba awal tahun 2025 yang hanya mengandalkan dua unit bus ukuran sedang, antusiasme masyarakat terutama dari kalangan mahasiswa universitas di sekitar rute seperti Untirta, UIN, dan Unbaja-melonjak drastis.
Untuk mengantisipasi penumpukan penumpang pada jam sibuk kerja dan perkuliahan, pengelola melakukan peremajaan armada dengan menghadirkan empat unit bus besar berkapasitas 80 penumpang.