TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa melonjak 30 persen dalam dua bulan terakhir.
Direktur Utama RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri mengungkapkan, pada bulan April, pihak rumah sakit mencatat sebanyak 45 kasus DBD. Jumlah tersebut kemudian melonjak menjadi 64 kasus pada bulan Mei. Sementara itu, untuk data komparatif pada bulan Juni masih dalam tahap pendataan.
Menurut dr. Faridzi, lonjakan kasus ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem yang menyisakan genangan air sebagai tempat reproduksi dan sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit DBD.
"Genangan air ini terkait dengan 3M Plus. Nomor satu, tidak ada lain, pemberantasan sarang nyamuknya itu yang kurang. Aktivitas pagi dan sore hari yang sering tidak kita sadari menjadi waktu utama penularan melalui gigitan nyamuk tersebut," ujar dr. Faridzi, Minggu (28/6).
Lebih lanjut, ia mengatakan meskipun terjadi peningkatan volume pasien, RSUD Tigaraksa menyatakan bahwa kapasitas operasional rumah sakit masih berada dalam kondisi aman. Dengan total daya tampung sebanyak 117 tempat tidur, seluruh pasien DBD sejauh ini masih dapat terlayani sesuai dengan standar prosedur yang berlaku.
Menurutnya, pihak rumah sakit terus bersiaga mengingat siklus musiman ini diperkirakan baru akan melandai pada bulan Oktober mendatang.
Berdasarkan data rekam medis, RSUD Tigaraksa sempat mencatat satu kasus kematian akibat DBD pada bulan Januari lalu, di mana pasien masuk dalam kondisi kedaruratan Dengue Shock Syndrome (DSS).
Dalam penanganan klinis, RSUD Tigaraksa memprioritaskan penanganan kegawatdaruratan, pemantauan berkala (follow-up) terhadap kondisi pasien, serta kesiapan ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk mengantisipasi pasien yang jatuh ke dalam kondisi kritis.
Lebih lanjut, dr. Faridzi juga menggarisbawahi tantangan medis di lapangan, khususnya terkait progres penyakit yang berjalan sangat cepat pada beberapa kasus. Kondisi ini sering kali menyulitkan pihak dokter untuk menegakkan diagnosis laboratorium secara utuh sebelum pasien mengalami perburukan klinis.
"Ada kasus di mana gejala klinis mengarah kuat ke DBD, namun progres penyakitnya terlalu cepat sehingga pasien meninggal dunia sebelum hasil pemeriksaan laboratorium lengkap untuk menegakkan diagnosis secara ilmiah," katanya.
Sementara itu, pada saat memperingati Asean Dengue Day, Asda I Pemkab Tangerang, Prima Saras Puspa mengatakan, pengendalian DBD tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan, tapi harus multi sektor. Mulai dari jajaran camat, lurah, kepala desa, kepala sekolah, hingga kader kesehatan untuk bergerak bersama menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
"Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) sebagai sebuah budaya. Gerakan ini harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan oleh masing-masing rumah di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang," ucap Prima. (dan)