Kobong Rawat Seni Bonsai, Eratkan Persaudaraan Sejak 2020
Ketua Komunitas Bonsai Villa Grand Tomang (Kobong) Citra Agung (dua kanan) didampingi para anggota foto bersama usai diwawancarai wartawan, Kamis (29/10). -Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Merawat bonsai bukan sekadar menjaga tanaman tetap tumbuh dalam ukuran kecil. Di balik batang yang dibentuk, cabang yang ditata, dan daun yang diperkecil, terdapat kesabaran, ketelatenan, serta kecintaan terhadap seni alam. Semangat itulah yang terus dijaga Komunitas Bonsai Villa Grand Tomang (Kobong) sejak berdiri pada 2020.
Berawal dari kesamaan hobi, Kobong menjadi wadah bagi para pencinta bonsai di kawasan Villa Grand Tomang, Kota Tangerang, untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan mengembangkan keterampilan. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini terus tumbuh dengan jumlah anggota sekitar 15 hingga 20 orang.
Citra Agung, Ketua Kobong mengatakan komunitas tersebut dibentuk untuk mempererat hubungan antarpencinta bonsai sekaligus memberi ruang bagi anggotanya untuk mendalami seni membentuk pohon dalam skala mini.
“Komunitas ini terdiri dari 15 sampai 20 pembonsai yang ada di Villa Grand Tomang,” ujar Agung saat diwawancarai Tangerang Ekspres, Kamis (29/10).
Dalam perjalanannya, Kobong juga memperluas jaringan dengan bergabung di bawah naungan Perkumpulan Pencinta Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Tangerang. Keanggotaan tersebut menjadi kesempatan bagi para pembonsai untuk saling bertukar pengetahuan dan mengikuti perkembangan seni bonsai.
Bagi Agung dan anggota Kobong, bonsai memiliki daya tarik tersendiri. Tanaman yang tumbuh di alam dibentuk menjadi miniatur tanpa menghilangkan karakter aslinya. Bentuk batang, percabangan, hingga ukuran daun menjadi bagian penting yang menentukan keindahan sebuah bonsai.
Proses membentuknya tidak instan. Dibutuhkan ketekunan untuk merawat tanaman sekaligus keterampilan dalam mengarahkan pertumbuhannya agar menghasilkan bentuk yang proporsional dan menyerupai pohon di alam.
“Cara berpikir yang paling sederhana, bonsai itu pohon yang ada di alam kita bikin miniaturnya dengan skala yang lebih kecil. Mulai dari batangnya, cabangnya, sampai daunnya nanti bisa kecil-kecil,” jelasnya.
Kecintaan terhadap seni tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan pameran. Sejak berdiri, Kobong telah menggelar empat kali kegiatan, mulai dari lingkungan RW hingga acara yang lebih terbuka untuk masyarakat.
Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari perjalanan komunitas ini adalah Periuk Expo pada 2023. Melalui kegiatan tersebut, Kobong mendapat kesempatan memperkenalkan koleksi bonsai sekaligus mendekatkan seni tanaman hias kepada masyarakat luas.
Perjalanan itu berlanjut dalam Festival Periuk pada Kamis (29/10). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 111 bonsai dari berbagai daerah di Tangerang Raya dihadirkan dengan beragam jenis dan ukuran. Pameran ini menjadi ajang bagi para pencinta bonsai untuk memperkenalkan koleksi sekaligus menunjukkan perkembangan seni bonsai kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, hari ini kita kedatangan 111 bonsai. Dari kemarin sampai tadi pagi, ada 111 bonsai datang dengan berbagai spesies dan ukuran,” katanya.
Selain memiliki nilai seni, bonsai juga mempunyai potensi ekonomi yang cukup besar. Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga miliaran rupiah, bergantung pada karakter, bentuk, usia, dan kualitasnya.
Dalam pameran tersebut, salah satu bonsai yang menjadi perhatian memiliki nilai sekitar Rp110 juta. Namun, bagi Agung, nilai sebuah bonsai tidak hanya diukur dari harga jualnya, tetapi juga dari proses panjang dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuknya.
Sumber:
