BJB

Warga Kunciran Jaya Krisis Air Bersih

Warga Kunciran Jaya Krisis Air Bersih

Ketua RT 03/03 Kunciran Jaya, Risin memantau proses pengeboran di lingkungannya untuk harapan mendapat air bersih untuk warga. Sabtu (10/10).-Ahmad Syihabudin/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, PINANG — Tiga bulan mengalami kesulitan air bersih, warga Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, belum merasakan solusi konkret untuk mengatasi krisis yang melanda permukiman mereka. Di tengah sumur yang mengering, warga terpaksa mengandalkan bantuan tetangga, masjid, hingga meminta bantuan aktivis lingkungan.

Kondisi tersebut memicu kritik terhadap lambannya antisipasi pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kekeringan. Persoalan yang berlangsung berbulan-bulan itu tidak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menjamin akses air bersih bagi masyarakat.

Ketua RT 03/03 Kunciran Jaya, Risin, mengatakan keluhan warga mengenai sulitnya mendapatkan air bersih telah berlangsung sekitar tiga bulan. Awalnya, persoalan tersebut dialami warga RT 02 sebelum meluas ke sejumlah wilayah permukiman lainnya.

“Keluhan warga sudah dari tiga bulan lalu, awalnya di wilayah RT 02,” ujar Risin kepada Tangerang Ekspres, Sabtu (10/10).

Menurut dia, kondisi tersebut mulai dicurigai sebagai dampak mengeringnya sumber air setelah seorang warga mencoba menggali sumur pompa hingga tiga kali, tetapi tidak kunjung menemukan air. Awalnya, warga mengira mesin pompa yang digunakan mengalami kerusakan.

Untuk mengetahui luas wilayah terdampak, Risin kemudian menghimpun informasi melalui grup WhatsApp warga. Hasilnya, krisis air bersih tidak hanya terjadi di satu lingkungan, tetapi juga meluas ke sejumlah wilayah di Kunciran Jaya dan sekitarnya.

Wilayah terdampak meliputi RT 02 dan RT 03 di RW 02 serta RT 04 dan RT 05 di RW 03. Kesulitan air juga mulai dirasakan warga Cipete, termasuk Gang Katuk yang berbatasan dengan Kunciran Jaya dan Gang Bebek.

“Sekarang sudah melebar ke Cipete, Gang Katuk yang berbatasan dengan Kunciran Jaya. Kemarin RT-nya meminta bantuan pengiriman air bersih. Gang Bebek, Cipete, juga mulai terdampak,” ungkapnya.

Dikatakannya, sebelum bantuan air bersih dari PMI, TNI-Polri, dan Perumda Tirta Benteng datang, warga berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar permukiman. Namun, upaya tersebut tidak selalu berhasil karena sejumlah sumur tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air.

Warga yang memiliki kemampuan finansial mencoba memperdalam sumur. Sementara itu, warga kurang mampu terpaksa meminta air kepada tetangga atau mengambilnya dari masjid. Penggunaan pompa semi jet pump pun tidak mampu menjangkau sumber air di sejumlah titik.

“Kalau orang punya dana (duit,red), mereka bisa memperdalam sumber airnya. Nah, kalau yang tidak punya, mau bagaimana? Paling meminta ke tetangga. Tapi kalau kelamaan, malu juga,” tutur Risin.

Di tengah kondisi tersebut, warga juga harus bergotong royong menyiapkan fasilitas penampungan agar bantuan air bersih yang datang dapat dimanfaatkan bersama. Risin bersama sejumlah ketua RT dan warga berupaya menyediakan toren dengan meminta bantuan kepada pemilik warung yang dikenal sebagai Mpok Minun.

“Untuk penyediaan toren, kami meminta bantuan ke warung Mpok Minun. Alhamdulillah, beliau membelikan. Kalau pemerintah, sampai sekarang belum ada solusi yang kami rasakan,” katanya.

Risin mengaku pihak kelurahan sempat mendatangi lokasi setelah persoalan tersebut ramai diberitakan media. Namun, menurut dia, kunjungan itu sebatas menanyakan kondisi warga dan belum disertai penanganan konkret yang dirasakan masyarakat.

Sumber: