Lahan TPA Jadi Titik Rawan Kebakaran
Salah satu TPS liar di Kecamatan Pinang yang terbakar, beberapa waktu lalu.-Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Lahan dan tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi salah satu titik rawan kebakaran di Kota Tangerang selama musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terlebih masih ditemukan aktivitas pembakaran sampah di sejumlah lokasi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar mengatakan, pihaknya terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di lahan kosong yang kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah liar.
“Kalau kita kan pastinya sudah menyampaikan, baik di medsos dan juga ke wilayah-wilayah, bahwa hal ini memang harus diperhatikan dan jadi atensi di lapangan,” kata Mahdiar kepada Tangerang Ekspres, Minggu (4/10).
Berdasarkan rekap BPBD Kota Tangerang, sepanjang Januari hingga 28 September 2026 tercatat sebanyak 317 kejadian kebakaran. Jumlah tersebut terdiri dari 21 kejadian pada Januari, 21 Februari, 20 Maret, 19 April, 28 Mei, 30 Juni, 73 Juli, 65 Agustus dan 40 kejadian hingga 28 September.
Khusus Agustus 2026, tercatat 65 kejadian kebakaran yang tersebar di 13 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 37 kejadian atau lebih dari separuhnya merupakan kebakaran lahan/TPA. Sisanya meliputi sembilan kebakaran permukiman, tujuh tempat usaha, lima gardu/tiang/kabel listrik, serta masing-masing dua kejadian pada industri dan kendaraan.
Kecamatan Periuk menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran terbanyak pada Agustus, yakni delapan kasus. Disusul Batuceper dan Karang Tengah masing-masing tujuh kejadian, Ciledug enam kejadian, serta Tangerang, Cibodas, Karawaci dan Pinang masing-masing lima kejadian.
Mahdiar menyebut, BPBD juga telah berkoordinasi dengan sejumlah dinas terkait untuk menindaklanjuti lokasi yang berulang kali menjadi titik pembuangan sampah liar. Langkah tersebut dinilai penting agar potensi kebakaran tidak terus berulang di lokasi yang sama.
“Bahkan kemarin kita sudah koordinasikan kepada dinas-dinas terkait, perlu ada langkah-langkah lanjutan untuk lokasi-lokasi yang kita anggap, pertama, berulang dan diindikasikan memang menjadi tempat-tempat pembuangan sampah liar dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurut Mahdiar, penyebab kebakaran di lokasi tersebut cukup beragam. Namun, salah satu pemicu yang ditemukan petugas adalah aktivitas pembakaran yang dilakukan warga di sekitar lokasi. Bahkan, aktivitas tersebut masih ditemukan ketika petugas tengah melakukan proses pemadaman.
“Macam-macam. Ada yang warga membakar di area sekitar situ. Terjadi kayak misalnya di Pinang, ketika kita pemadaman, masih ada juga warga yang masih membakar di sekitar situ juga, padahal kita lagi pemadaman,” ungkapnya.
Karena itu, BPBD meminta masyarakat tidak membakar sampah, khususnya di lahan kosong yang terdapat tumpukan material mudah terbakar. Pengawasan juga diharapkan dilakukan bersama-sama mulai dari tingkat RT, kelurahan hingga kecamatan.
“Area-area lahan-lahan kosong diharapkan memang dijauhkan dari pelaksanaan pembuangan sampah liar, karena itu pasti akan sangat merugikan lokasi atau wilayah setempat,” tuturnya.
Mahdiar menambahkan, masyarakat juga diminta segera menangani titik api apabila menemukan kebakaran agar tidak berkembang menjadi lebih besar. Langkah cepat tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas selama musim kemarau.
“Kalaupun ada kejadian-kejadian semacam itu, jangan pernah sampai ada lagi pembakaran-pembakaran. Bahkan kalau ada yang tidak kita ketahui, mungkin karena terbakar dengan tidak sengaja, sebaiknya langsung kita padamkan, jangan menunggu besar,” pungkasnya. (mg-9/mol)
Sumber:
