Kasus ISPA di Kota Tangerang Naik 29 Persen
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tangerang, dr. Yumelda Ismawir.-Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Tangerang mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mencatat lonjakan kasus terjadi berdekatan dengan periode paparan abu vulkanik yang sempat melanda wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tangerang, dr. Yumelda Ismawir, mengatakan berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terdapat peningkatan kasus ISPA pada beberapa minggu terakhir.
Pada minggu ke-35 (M35), tercatat sebanyak 4.431 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 5.367 kasus pada M36 atau naik sekitar 21 persen. Sementara pada M37, jumlah kasus kembali turun menjadi 4.875 kasus.
“Ya, berdasarkan pemantauan SKDR Kota Tangerang, terlihat peningkatan kasus ISPA pada beberapa minggu terakhir, terutama menjelang dan pada periode terjadinya paparan abu vulkanik,” ujar Yumelda, Selasa (29/9).
Meski mengalami penurunan pada M37, jumlah kasus tersebut masih lebih tinggi dibandingkan M35. Bahkan, jika dibandingkan dengan rata-rata enam minggu sebelumnya, yakni M30 hingga M35 yang berada di kisaran 3.793 kasus per minggu, angka pada M37 masih sekitar 29 persen lebih tinggi.
Yumelda menegaskan, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian dan pemantauan. Namun, ia menyebut tren kasus tidak menunjukkan peningkatan secara terus-menerus karena setelah mencapai puncak pada M36, jumlah kasus kembali mengalami penurunan pada M37.
“Jadi memang terdapat peningkatan yang perlu kita pantau, tetapi trennya tidak menunjukkan peningkatan terus-menerus karena setelah mencapai puncak di M36, kasus kembali menurun pada M37,” katanya.
Menurut Yumelda, data tersebut menunjukkan adanya lonjakan kasus yang waktunya berdekatan dengan kejadian paparan abu vulkanik. Kendati demikian, Dinkes belum dapat memastikan bahwa peningkatan ISPA tersebut secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik.
“Secara epidemiologis, kami melihat adanya peningkatan kasus ISPA yang waktunya berdekatan dengan kejadian paparan abu vulkanik. Namun, kami belum dapat menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik,” jelasnya.
Untuk memastikan adanya hubungan sebab-akibat, lanjut Yumelda, diperlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Di antaranya tren kasus ISPA sebelumnya, distribusi kasus berdasarkan wilayah, tingkat paparan abu vulkanik, serta faktor lain yang dapat memengaruhi kejadian ISPA.
Dinkes juga mengingatkan sejumlah kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, penderita asma, penyakit paru kronis, serta masyarakat yang memiliki paparan langsung atau lebih lama terhadap abu, terutama mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan,” katanya.
Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman atau nyeri, hidung berair hingga sesak atau gangguan pernapasan pada sebagian orang. Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Dinkes Kota Tangerang terus melakukan pemantauan melalui sistem kewaspadaan dini dan respons secara berkala. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan tren ISPA sekaligus berkoordinasi dengan puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sumber:
