BJB

Stunting Ciputat Turun, 73 Anak Masih Jadi Perhatian

Stunting Ciputat Turun, 73 Anak Masih Jadi Perhatian

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan (kiri) berbincang dengan seorang anak yang sedang makan disuapi orangtuanya saat peresmian Pos Gizi Pelita Hati di RW 10, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kamis (24/9).(Tri Budi/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID,  CIPUTAT — Kasus stunting di Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, menurun dari 84 kasus pada 2025 menjadi 73 kasus pada 2026. Namun, penurunan tersebut belum membuat persoalan gizi anak selesai. Puluhan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui masih membutuhkan perhatian dan intervensi berkelanjutan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel Lilis Suryani mengatakan, selain 73 kasus stunting, di Kelurahan Jombang masih ditemukan 18 balita dengan berat badan kurang, 27 ibu hamil mengalami kekurangan energi kronis (KEK), dan 47 ibu hamil mengalami anemia.

“Permasalahan gizi masih menjadi prioritas di Tangsel, khususnya di Kecamatan Ciputat, Kelurahan Jombang. Alhamdulillah dari 2025 ke 2026 mengalami penurunan, dari 84 kasus menjadi 73 kasus,” kata Lilis dalam kegiatan Pos Gizi Pelita Hati di RW 10, Kelurahan Jombang, Kamis (24/9).

Menurut Lilis, penanganan stunting tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak kehamilan dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi ibu.

“Stunting ini tidak akan selesai apabila masih dilahirkan balita-balita risiko tinggi,” ujarnya.

Untuk memperkuat pencegahan, Pemkot Tangsel mengoptimalkan Pos Gizi dengan melibatkan kader Posyandu, puskesmas, orang tua, RT/RW, dan tokoh masyarakat. Kegiatan dilakukan selama lima hari setiap bulan dengan sasaran balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, penanganan stunting tidak bisa dibebankan kepada pemerintah daerah semata. Keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi bagian penting agar intervensi tidak berhenti di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Penanganan stunting atau gizi buruk itu tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri. Perlu kebersamaan kita semua, termasuk para tokoh masyarakat dan ibu-ibu kader,” katanya.

Pos Gizi tidak hanya menyediakan makanan tambahan. Anak-anak makan bersama di lokasi agar kandungan makanan dapat dipantau petugas sekaligus menjadi sarana edukasi bagi orang tua mengenai pola makan seimbang dan tumbuh kembang anak.

“Memberikan makan tidak asal kenyang, harus seimbang. Nanti di Pos Gizi ini petugas akan terus memberikan edukasi,” ujar Lilis.

Program Pos Gizi di Tangsel telah berjalan sejak 2023 dan diperkuat dengan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Petugas juga melakukan pemantauan terhadap anak yang tidak hadir di Posyandu melalui kunjungan ke rumah.

Pilar menegaskan, persoalan stunting berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pembangunan kota menurutnya tidak cukup hanya mengejar pembangunan fisik.

“Kalau mau Kota Tangsel maju, sumber daya manusianya juga harus maju. Caranya, anak-anak kita jangan sampai ada yang terkena stunting,” ujarnya.

Ia mengingatkan, periode 1.000 hari pertama kehidupan—sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun—merupakan fase penting dalam pemenuhan gizi dan pertumbuhan anak. Orang tua diminta tidak hanya mengejar anak kenyang, tetapi memastikan makanan yang dikonsumsi memenuhi kebutuhan gizi.

Sumber: