BJB

Nelayan Tetap Melaut Meski Anak Krakatau Status Siaga

Nelayan Tetap Melaut Meski Anak Krakatau Status Siaga

Sejumlah kapal nelayan di Binuangeun, laut selatan bersandar. (Ahmad Fadilah/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, PANDEGLANG — Sejumlah nelayan di selatan Pandeglang masih melakukan aktivitas seperti biasa melaut mencari ikan walau status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau meningkat di Level III (Siaga).

Jumami, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan mengatakan, hingga kini belum ada larangan resmi bagi nelayan untuk beraktivitas di laut. Otoritas hanya mengimbau nelayan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Nelayan mah biasa saja, tetap beraktivitas. Tidak ada kendala. Yang jelas tetap hati-hati karena ada imbauan, tetapi semua tetap melaut," kata Jumami, kepada wartawan, Minggu (5/7).

Menurutnya, penghentian aktivitas melaut tanpa adanya skema perlindungan ekonomi akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup nelayan dan keluarganya.

"Tidak ada penghentian. Kalau misalnya dilarang melaut, yang menjamin kehidupan nelayan siapa? Karena, melaut satu-satunya kehidupan mereka," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui sebagian nelayan tetap menyimpan kekhawatiran, dan dia menilai, masyarakat pesisir telah terbiasa menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau yang beberapa kali mengalami erupsi dalam beberapa tahun terakhir.

"Kekhawatiran tetap ada. Tapi erupsi Anak Krakatau bukan baru kali ini. Dari dulu juga sudah beberapa kali terjadi, jadi nelayan sudah terbiasa," katanya.

Hingga kini, aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan Pandeglang masih berlangsung normal dan belum terganggu oleh peningkatan status Gunung Anak Krakatau.

"Masih aman, normal, terkendali. Tidak ada masalah dan tidak menjadi hambatan bagi nelayan untuk melaut," tuturnya.

Nurman nelayan di Binuangeun mengaku, pendapatan tangkapan ikan saat ini menurun drastis, karena saat ini masuk musim paceklik.

"Iya sekarang nelayam sedang mengalami paceklik, penurunan hasil tangkapan mencapai sekitar 5 - 10 persen sehingga pendapatan harian ikut menurun," ucapnya. (fad)

Sumber: