Promosi Pasar Sentiong Dinilai Singgung Pekerja
DISKUSI: Anggota DPRD kabupaten Tangerang, Sri Panggung Lestari saat berbicara dalam diskusi di acara DPRD Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu.(Dani Mukarom/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, BALARAJA — Narasi promosi Pasar Sentiong, Kecamatan Balaraja, yang mencantumkan kalimat “Cicilan Semurah Gaji Karyawan” tidak etis dan berpotensi menyinggung para pekerja.
Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Sri Panggung Lestari mengkritik, strategi pemasaran sebuah pasar atau pusat perdagangan seharusnya tidak menggunakan kalimat yang menyentuh ranah pribadi masyarakat, terlebih berkaitan dengan penghasilan pekerja.“Silakan beriklan, silakan melakukan marketing, tetapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Gaji itu sifatnya pribadi. Saya sangat tidak setuju dengan kalimat yang menyebut semurah gaji karyawan. Itu tidak etis,” kata Sri Panggung, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan, upah minimum di Kabupaten Tangerang memang termasuk yang tertinggi di Indonesia, yakni sekitar Rp5,2 juta per bulan. Namun, kondisi ekonomi setiap pekerja berbeda sehingga penggunaan nominal gaji sebagai bahan promosi dinilai tidak tepat.“Belum tentu semua pekerja merasa nyaman dengan narasi seperti itu. Banyak juga masyarakat yang penghasilannya masih di bawah UMR. Jadi jangan menjadikan gaji pekerja sebagai alat promosi,” ujarnya.
Politisi Partai Amanat Nasional itu menegaskan, promosi produk pasar semestinya lebih menonjolkan keunggulan fasilitas, lokasi, maupun kemudahan pembayaran tanpa harus membawa-bawa kondisi ekonomi kelompok tertentu.
Di sisi lain, ia menilai persoalan utama pasar sebenarnya bukan hanya soal harga kios atau besaran cicilan, melainkan bagaimana pasar mampu menarik pedagang dan pembeli untuk beraktivitas di dalam area yang telah disediakan.
Menurutnya, sejumlah program revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah bertujuan menata aktivitas perdagangan agar lebih tertib dan nyaman. Namun tantangan terbesar sering kali muncul ketika pedagang enggan menempati kios yang telah disiapkan di dalam pasar.“Revitalisasi pasar itu tujuannya agar aktivitas perdagangan lebih tertata. Persoalannya sekarang bagaimana pedagang mau masuk dan berjualan di dalam pasar. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” ucapnya.
Sri Panggung berharap pengelola pasar lebih bijak dalam menyusun materi promosi dan mengedepankan pendekatan yang membangun kepercayaan masyarakat. Ia juga meminta seluruh pihak fokus pada upaya menghidupkan aktivitas perdagangan di pasar agar investasi yang telah dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi pedagang maupun konsumen.“Jangan sampai promosi yang dibuat justru menimbulkan polemik. Yang lebih penting adalah bagaimana pasar ramai, pedagang nyaman berjualan, dan masyarakat mau datang berbelanja,” katanya.
Sebelumnya, sebuah spanduk promosi yang terpasang di pagar proyek Pasar Modern Laris Saiman Sentiong di Jalan Raya Balaraja-Kresek menuai kritik dari masyarakat. Salah satu warga, Marno menilai penggunaan gaji karyawan sebagai alat perbandingan dalam strategi pemasaran merupakan bentuk komunikasi yang tidak menghargai perjuangan para pekerja.
Ia mengatakan, gaji pegawai yang rendah tidak layak dijadikan bahan promosi. Menurutnya, upah merupakan hasil jerih payah pekerja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pernyataan tersebut mencederai rasa hormat terhadap pekerja yang setiap hari menopang roda ekonomi. Kami meminta pihak pembuat iklan mengevaluasi narasi itu dan menyampaikan permintaan maaf kepada para karyawan dan buruh yang merasa direndahkan,” katanya.
Ia menambahkan, kreativitas dalam berpromosi seharusnya tidak mengorbankan martabat kelompok tertentu.“Jangan jadikan upah pekerja sebagai bahan komparasi untuk menarik pembeli. Banyak cara lain yang lebih elegan dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan,” ucapnya.(dan)
Sumber:

