BJB

Benyamin Kembangkan Homeschooling Bagi Warga Kurang Mampu

Benyamin Kembangkan Homeschooling  Bagi Warga Kurang Mampu

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. (Tri Budi/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie berencana mengembangkan sekolah informal berbasis homeschooling guna memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kota Tangsel.

Menurut Benyamin, saat ini Pemkot Tangsel telah memfasilitasi sekitar 5.000 siswa melalui program bantuan pendidikan dan beasiswa untuk bersekolah di SMP swasta. Ke depan, pemerintah ingin menghadirkan alternatif pendidikan yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau masyarakat.

“Ke depan saya ingin mengembangkan homeschooling atau sekolah informal yang bisa diakses masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres sesuai menghadiri peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Islamic Center Baiturrahmi, BSD, Serpong, Rabu (24/6).

Benyamin menambahkan, konsep sekolah informal tersebut nantinya dapat diselenggarakan di lingkungan masyarakat, seperti tingkat RT, tanpa harus terikat dengan bangunan sekolah formal. Meski demikian, lembaga tersebut tetap memiliki legalitas dan dapat menerbitkan ijazah bagi peserta didik.

“Resmi dan peserta didiknya tetap mendapatkan ijazah. Ini diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.

Menurutnya, model homeschooling memungkinkan proses belajar dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga lima siswa, sehingga pembelajaran bisa berlangsung lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik.

Homeschooling ini tidak harus terikat pada ruang kelas seperti sekolah formal. Jumlah muridnya juga bisa lebih sedikit sehingga proses belajar menjadi lebih efektif,” jelasnya.

Benyamin mengaku, gagasan pengembangan sekolah informal tersebut sejalan dengan berbagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terus dilakukan Pemkot Tangsel. Bahkan, menurutnya, konsep serupa telah mulai diterapkan untuk kelompok masyarakat tertentu.

“Istri saya juga sudah memulai kegiatan sekolah untuk lansia. Jadi konsep pembelajaran berbasis komunitas seperti ini sebenarnya sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih luas,” tuturnya.

Meski demikian, Benyamin mengakui implementasi program tersebut masih memerlukan sejumlah persiapan, mulai dari penyediaan tenaga pendidik hingga penyusunan regulasi yang mendukung pelaksanaannya.

“Kami harus menyiapkan guru, sistem pembelajaran, serta regulasinya terlebih dahulu. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh akses pendidikan yang layak,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Tangsel Tini Indaryanthi Benyamin Davnie mengatakan,  pada akhir 2025 lalu telah mendirikan dan meresmikan Sekolah Ibu di Kelurahan Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong.

"Ini untuk menyelamatkan permasalahan keluarga sekaligus meningkatkan kapasitas ibu-ibu. Sekolah Ibu didirikan untuk mempersiapkan perempuan Kota Tangsel sebagai pendamping pendidik terbaik bangsa," ujarnya.

Tini menambahkan, meskipun namanya Sekolah Ibu namun, sekolah tersebut bukanlah sekolah yang hanya diperuntukkan bagi kaum ibu saja.

"Ini adalah sekolah untuk semua, bagi mereka yang membutuhkan kesempatan kedua untuk belajar atau mendapatkan pendidikan," tambahnya.

Menurutnya, program Sekolah Ibu lahir dari kesadaran bahwa masih banyak masyarakat di kota Tangsel yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak. Bahkan ada yang tidak sempat menyelesaikan sekolah.

"Sekolah ibu dibangun sebagai ruang belajar yang aman dan memulihkan diri, dan juga untuk dasar bagi yang belum pernah sekolah, dan juga berkelanjutan untuk sekolah bagi anak-anak yang putus sekolah, agar mereka kembali memiliki arah dan tujuan," tuturnya.

Melalui program tersebut pihaknya memiliki harapan besar yakni agar tidak ada lagi warga Kota Tangsel yang tertinggal dalam pendidikan. Baik itu ibu, ataupun bapak, maupun anak-anak.

"Kemudian agar setiap peserta atau siswa dapat menemukan kembali rasa percaya diri, keberanian dan harapan hidup. Lalu agar sekolah ibu menjadi pusat pemberdayaan tempat lahirnya masyarakat yang mandiri dan kuat secara mental dan sosial," ungkapnya. (bud)

Sumber: