BJB FEBRUARI 2026

Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet, Harga Styrofoam Melonjak

Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet, Harga Styrofoam Melonjak

NAIK: Salah satu warga sedang membeli plastik di Pasar Gudang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Rabu 8 April 2026 meski harga mengalami kenaikan.(Dani Mukarom/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Kenaikan harga styrofoam mulai membebani pe­dagang di Pasar Gudang Tiga­raksa, Kabupaten Tangerang. Lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir diduga dipicu ke­naik­an bahan baku ber­basis minyak akibat konflik inter­nasional antara Israel, Ame­rika Serikat, dan Iran.

Eko, pedagang plastik dan ke­masan di Pasar Gudang Tigaraksa, mengaku harga styrofoam meng­alami kenaikan signifikan setelah harga plastik lebih dulu melonjak. Ia menyebut harga mangkuk styro­foam yang sebelumnya dijual sekitar Rp22.000 kini naik menjadi Rp30.000.

“Kenaikannya lumayan terasa. Setelah plastik naik, styrofoam juga ikut naik. Pembeli banyak yang mengeluh,” ujar Eko, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, mayoritas pembeli styrofoam merupakan pedagang makanan yang sangat bergantung pada kemasan tersebut. Namun, di tengah kenaikan harga, banyak pelanggan kesulitan menaikkan harga jual makanan mereka, se­hingga terpaksa mengurangi jumlah pembelian.

Kondisi tersebut berdampak pada omzet penjualan. Eko meng­aku pendapatan hariannya turun cukup drastis. Jika sebelumnya ia bisa meraih Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per hari, kini mencapai Rp1 juta saja sudah sulit.

Keluhan serupa disampaikan Afdal, pedagang styrofoam di Pasar Gudang. Ia menyebut ke­naikan harga terjadi hampir di semua jenis styrofoam. Untuk wadah nasi, harga kini mencapai Rp65.000 per bal, sementara wa­dah bubur naik menjadi Rp40.000.

“Pembeli banyak yang protes karena harganya naik cukup tinggi. Tapi mereka tetap beli karena kebutuhan,” kata Afdal.

Meski jumlah pembeli relatif stabil, Afdal mengaku omzetnya tetap menurun. Dari sebelumnya sekitar Rp2 juta per hari, kini turun menjadi sekitar Rp1 juta. Menu­rutnya, pelanggan kini mem­beli dalam jumlah lebih sedikit untuk menekan biaya operasional.

Afdal menyebut, berdasarkan informasi dari distributor, kenaik­an harga dipicu terganggunya pasokan bahan baku yang berasal dari luar negeri, termasuk Iran, yang merupakan salah satu produ­sen minyak dunia.

Afdal khawatir jika kenaikan terus berlanjut, bukan hanya pe­dagang kemasan yang terdam­pak, tetapi juga pedagang ma­kanan hingga konsumen.

“Kalau harga styrofoam terus naik, pedagang makanan juga pasti ikut menaikkan harga. Akhir­nya masyarakat yang kena dam­paknya,” ujar Afdal.(dan)

Sumber: