Awal 2026, Kasus DBD Tinggi, Hingga April Tercatat 128 Kasus DBD
Dua pegawai resepsionis Dinas Kesehatan Kota Tangsel siap melayani masyarakat yang datang ke kantor.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah. Meskipun jumlah kasus DBD menurun dibanding kasus yang terjadi dalam periode yang sama tahun lalu, namun Dinkes tetap mewaspadainya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, pihaknya mencatat sejak 1 Januari hingga 5 April 2025 telah terjadi 128 kasus DBD. ”Dari 1 Januari sampai 5 April 2026 terjadi 128 kasus DBD dan semuanya tanpa kasus kematian,” ujarnya kepada wartawan, Senin (6/4).
Allin menambahkan, jumlah tersebut menurun dibanding periode yang sama pada tahun lalu, yakni sebanyak 208 kasus DBD. Dimana selama 2025 lalu terjadi 648 kasus DBD di kota termuda di Provinsi Banten tersebut.
”Kalau tiga bulan ini telah terjadi 128 kasus DBD, yakni Januari 35 kasus, Februari 38, Maret 40. Sementara dari 1-5 April telah terjadi 15 kasus,” tambahnya.
Wanita berkerudung ini mengaku, 128 kasus DBD tersebut tersebar di 7 kecamatan dengan jumlah bervariasi. Kecamatan Serpong 29 kasus, diikuti Pamulang 24 kasus, Ciputat 23 kasus, Pondok Aren 22 kasus, Serpong Utara 14 kasus, Setu 13 kasus, serta Kecamatan Ciputat Timur 3 kasus.
Sebagai upaya pengendalian DBD meliputi pencegahan dan pemutusan rantai penularan, Dinkes Kota Tangsel telah melakukan berbagai program.
Mulai dari Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang yang berpotensi tempat nyamuk Aedes aegypti (3M) plus dengan program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, serta penyemprotan fogging di wilayah terjadi penularan.
”Pemutusan rantai penularan DBD ini perlu kolaborasi dan komitmen kita semua, pemerintah dan juga masyarakat. Cara paling mudah seperti menguras, mendaur ulang dan menghindari gigitan nyamuk. Serta menjadi penggerak Gerakan 1 rumah 1 jumantik di rumahnya masing-masing,” jelasnya.
Namun, penurunan kasus DBD dalam 3 bulan ini disambut baik oleh Dinas Kesehatan. Tapi, perhatian dinas saat ini dialihkan kepada ancaman lain yaitu campak dan ini dilakukan untuk mengantisipasi lebih awal untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB).
”Kami telah mengadakan outbreak response ommunization (ORI) campak secara serentak dengan target sekitar 109 ribu anak usia 9 hingga 59 bulan,” tuturnya.
Program tersebut berlangsung selama dua pekan di seluruh puskesmas, kemudian dilanjutkan dengan sweeping selama satu pekan untuk menjangkau anak yang belum mendapat imunisasi.
“Imunisasi ini penting untuk memperkuat perlindungan anak dan mencegah KLB,” tutupnya. (bud)
Sumber:
