BJB FEBRUARI 2026

Di Antara Doa dan Sunyi Hutan Solear, Makam Kramat yang Ramai Diziarahi Namun Terlupakan

Di Antara Doa dan Sunyi Hutan Solear, Makam Kramat yang Ramai Diziarahi Namun Terlupakan

Makam Kramat Solear yang berada di Kecamatan Solear, selalu ramai di datangi para penziarah.(Randy/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SOLEAR — Langkah kaki para peziarah perlahan menyusuri jalan setapak yang teduh di kawasan hutan Solear. Suara dedaunan bergesekan tertiup angin berpadu dengan riuh kera yang bergelantungan di pepohonan tua. Di tempat inilah doa-doa dipanjatkan, harapan dititipkan, dan keyakinan diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun di balik ramainya kunjungan, tersimpan kenyataan yang mengundang keprihatinan. Makam Kramat Solear, salah satu destinasi wisata religi paling dikenal di Kabupaten Tangerang, kini seolah berjalan tanpa perhatian yang memadai.

Terletak di Dusun Solear, Desa Cikaso, Kecamatan Solear, sekitar 16 kilometer dari Tigaraksa, kawasan ini merupakan hutan lindung seluas 4,5 hektar yang menyimpan jejak sejarah panjang penyebaran Islam di tanah Tangerang.

Di bawah naungan pohon tua yang akarnya menjalar kuat ke tanah, terdapat makam Syekh Mas Ma’sad Bin Hawa, sosok yang diyakini sebagai panglima Kesultanan Banten yang ditugaskan menyebarkan agama Islam di wilayah Tigaraksa dan sekitarnya. Masyarakat meyakini beliau memiliki karomah setara para wali, menjadikan makam ini sebagai tempat ziarah yang sarat makna spiritual.

Setiap hari, peziarah datang dari berbagai daerah. Ada yang membawa harapan kesembuhan, memohon kelancaran rezeki, hingga sekadar mencari ketenangan batin di tengah sunyinya hutan.

Keunikan lain yang membuat tempat ini berbeda adalah keberadaan ratusan kera yang hidup bebas dan bersahabat dengan pengunjung. Bagi masyarakat setempat, kera-kera itu bukan sekadar penghuni hutan.

Konon, jumlahnya tidak pernah berubah dan dipercaya sebagai simbol prajurit setia pengikut Syekh Mas Ma’sad. Pantangan untuk menyakiti hewan-hewan tersebut masih dijaga dengan penuh hormat oleh warga maupun peziarah. Namun, kesakralan tempat ini berbanding terbalik dengan kondisi fasilitas yang ada.

Abah Sanjay, pedagang yang telah lama berjualan di kawasan makam, menjadi saksi bagaimana pengunjung terus berdatangan meski fasilitas semakin memprihatinkan.

“Hampir setiap hari ada saja yang datang ziarah, dari mana saja ada. Tapi banyak yang mengeluh kondisi di sini sudah kurang nyaman,” ungkapnya kepada Tangerang Ekspres, Minggu (5/3).

Ia mengatakan, keluhan pengunjung kerap disampaikan kepadanya  mulai dari akses jalan, fasilitas umum, hingga sarana pendukung yang dinilai kurang terawat. Keberadaan Makam Kramat Solear bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat sekitar.

“Kalau tempat ini diperbaiki, masyarakat kecil seperti kami juga ikut merasakan manfaatnya. Wisatawan ramai, ekonomi warga juga hidup,” katanya dengan nada penuh harap.

Di tengah keramaian doa yang tak pernah putus, Makam Kramat Solear seperti menyimpan ironi: tempat yang terus memberi ketenangan bagi banyak orang, namun belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang layak.

Padahal, perpaduan sejarah Islam, wisata religi, dan keunikan habitat kera menjadikan kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan Kabupaten Tangerang.

Kini, harapan masyarakat menggantung pada perhatian pemerintah agar situs religi bersejarah ini tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga dirawat dan ditata dengan baik sehingga warisan spiritual yang hidup di tengah hutan Solear tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Sumber: