Emas Jadi Faktor Utama Inflasi Sepanjang 2025
Ketua Tim Kerja Statistik Distribusi, Harga dan Jasa BPS Banten, Saeful Hidayat paparkan inflasi di Banten secara daring.--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten menyebutkan bahwa emas perhiasan menjadi komoditas pendorong utama inflasi tahunan (year-on-year) di Provinsi Banten sepanjang tahun 2025. Dengan kontribusi sebesar 0,65 poin persen, emas perhiasan mengungguli komoditas lainnya dalam memicu kenaikan harga.
"Sepanjang 2025 emas perhiasan adalah komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi year on year dengan andil 0,65 poin persen," kata Ketua Tim Kerja Statistik Distribusi, Harga dan Jasa BPS Banten, Saeful Hidayat dalam keterangan pada Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, inflasi tahunan Banten berada di angka 2,74 persen. Sementara itu, untuk periode Desember 2025, terjadi inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,53.
"Dua kelompok pengeluaran yang menyumbang andil inflasi terbesar yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memberikan andil inflasi sebesar 0,50 poin persen, serta kelompok Perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi 0,07 poin persen," ujarnya.
Sementara lima komoditas yang menjadi pemicu utama terjadinya inflasi month to month yakni cabai rawit yang memberikan andil inflasi 0,23 poin persen, daging ayam ras 0,08 poin persen, emas perhiasan 0,06 poin persen, telur ayam ras 0,05 poin persen, dan air kemasan 0,04 poin persen.
"Untuk skala bulanan, cabai rawit menjadi pemicu tertinggi diikuti daging ayam ras dan emas perhiasan," terangnya.
Sedangkan lima komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi month to month adalah cabai merah dengan andil deflasi 0,03 poin persen, daging sapi 0,01 poin persen, Wortel 0,01 poin persen, bawang merah 0,01 poin persen, dan salak 0,01 poin persen.
Sebelumnya, Deputi Kepala Perwakilan BI Banten, Rawindra Ardiansyah, menyoroti dua sektor yang paling perlu diwaspadai pada saat Natal dan tahun baru 2026, agar inflasi terjaga yaitu pangan dan transportasi.
Menurutnya, meski neraca pangan Banten terutama beras masih terbilang surplus dan andal, kerja sama TPID sangat krusial untuk mengantisipasi tren kenaikan harga musiman.
"Jika melihat tren, menjelang Nataru ini sektor pangan dan transportasi perlu kami waspadai. Biaya logistik bisa melonjak jika distribusi macet," katanya.
Selain itu, Bank Indonesia juga meminta pemerintah daerah untuk segera mencari solusi menekan biaya logistik dan transportasi. Isu diskon tiket pesawat dan pengaturan armada transportasi di masa liburan didorong untuk membantu meringankan beban masyarakat.
"Ketersediaan dan keterjangkauan menjadi kunci utama TPID Banten dalam menghadapi puncak perayaan akhir tahun," paparnya. (mam)
Sumber:

